This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Juni 14, 2011
Juni 10, 2011
Blues di Antara Gambang Kromong
Sebuah poster untuk mengenang Benyamin Sueb terpasang di Internet. Poster itu begitu pas melukiskan wajah Benyamin, mewakili auranya sebagaimana selama ini dikenal: rambut hitam berombaknya, wajahnya yang merekah dengan ledakan tawa, kumis tipisnya... Jari telunjuknya menuding seorang perempuan berdandan menor yang tengah duduk memegang cermin; lembar-lembar kertas sobekan kalender harian melayang-layang di sekitar perempuan itu.
Sang kreator, yang menyebut dirinya “bibibawbawbaw” itu, menggambarkan poster itu sebagai “visualisasi syair dalam lagunya [Benyamin] berjudul ‘Nanke Lande’”. Di salah satu kuplet lagu ini, Benyamin menyanyikan:
Nangke lande matengnye kena paku
Dimakan gajeh giginye pade ngilu
Ade jande lame ga laku-laku
Saban hari die ngaca melulu.
Blak-blakan, jahil, menggelitik... dan banyak lagi karakter senada yang jadi ciri khas seniman kelahiran Jakarta, 5 Maret 1939, ini dalam bermusik — juga kemudian sebagai komedian dan aktor.
Sebagai penyanyi, karier yang pertama kali ditekuninya, dia sudah identik dengan gambang kromong. Dia boleh disebut sebagai figur yang berperan mengangkat gambang kromong, musik “pinggiran” yang lekat dengan warga Betawi, ke tataran yang lebih luas.
Popularitas yang dia peroleh dari bergambang kromong itu teramat gigantis sampai hampir menutupi kegiatan dia lainnya yang tak kalah memikat: bahwa dia pun menyanyikan sejumlah lagu dalam irama blues dan rock. Bahkan sempat menjadi proyek khusus.
Pada 1970-an, kala masih berduet dengan Ida Royani, Benyamin menyanyikan “Kompor Meleduk”. Menyimak lagu yang syairnya diawali dengan teriakan “Aaaah… nya’ banjir!” ini, sulit ditepis bahwa coraknya adalah rock. Seperti umumnya lagu rock (yang sebenarnya bermula dari blues), tulang punggungnya adalah serangkaian melodi yang menjadi tema utama, biasanya dari gitar. Orang menyebutnya riff, atau ostinato dalam musik klasik.
Intro lagu itu, berupa riff nada-nada D-C-A (dalam kunci D7), mestinya sudah seketika menghamparkan suasana bluesy. Tapi bisa saja orang tak mengenalinya. Apalagi jika kemudian yang didengar adalah lirik dalam dialek Betawi:
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk
Ané jadi gemeteran wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran garé-garé got mampet
Sejak memutuskan menerjuni gambang kromong (karena band pertamanya, Melody Boys, terkena ganyang larangan anti lagu ngak ngik ngok atau musik Barat pada pertengahan 1960-an) Benyamin memang cenderung disalahpahami. Orang lebih menganggapnya bergurau atau melucu saja melalui lagu-lagunya. Padahal sebenarnya dia merekam dan menceritakan peristiwa atau kejadian yang berlangsung di tengah masyarakat.
Tentu saja dengan caranya sendiri, yang kerap merupakan ekspresi spontan. Sesekali ada juga kritik. Atau, sentilanlah (tanpa sentilun), kalau kata “kritik” tak bisa diterima. Misalnya dalam “Digusur” atau “Pungli”.
Lagu “Pungli” (1977) malah mendapat penghargaan dari Soedomo, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, karena dianggap membantu program Operasi Tertib kala itu.
Maka, sebagai sesuatu yang di luar jalur, wajar bila kesengajaan menyusupkan anasir blues dan rock di antara lagu-lagu gambang kromong kerap dianggap tak terdeteksi radar. Atau, paling tidak, diidentifikasi sebagai salah satu yang “aneh” aransemennya.
Sebenarnya, jika dilacak ke belakang, munculnya blues dan rock, atau aliran lain di luar gambang kromong, bukan tanpa dasar. Ketika masih bersama Melody Boys dan biasa tampil di klub malam dan hotel, Benyamin sudah harus akrab dengan aneka irama. Band mana pun, di tempat hiburan seperti itu, memang mau tak mau harus menguasai banyak jenis musik.
Bergabung dengan Naga Mustika, setelah harus banting setir agar bisa bertahan, tak serta-merta menjauhkan Benyamin dari suasana modern dari musik-musik itu. Orkes gambang kromong yang dipimpin Suryahanda ini berkonsep modern, setidaknya di antara instrumen yang memperkuatnya biasa didapati di kelompok-kelompok musik masa kini. Misalnya gitar elektrik, organ, dan bas. Peluang untuk bereksperimen menjadi sangat terbuka, karenanya.
Pada 1960-an dan 1970-an, ketika begitu banyak musik berbasis blues, juga soul, sedang menjadi tren, Benyamin pun menyerapnya. Idiom dan watak musik-musik yang ekspresif itu ternyata berjodoh dengan watak budaya Betawi. Bisa dimaklumi bila Benyamin menyusupkannya ke dalam karya-karyanya.
Minatnya pada blues dan rock sempat menjadi dasar dibentuknya Al Haj pada 1992. Inilah band yang menghimpun musisi-musisi kondang kala itu: Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Editya.
Harry Sabar, seperti dikutip Theodore K.S. dalam “Benyamin Sueb, Legenda Betawi” (Kompas, 27 Februari 2004), menuturkan Benyamin waktu itu “ingin menyanyi lagu rock sebagaimana Ahmad Albar dari God Bless”. Al Haj merilis satu album berisi sepuluh lagu berjudul Biang Kerok.
Sejauh ini, album itulah yang diketahui menjadi penutup diskografi Benyamin, yang selama karier bermusiknya telah menghasilkan lebih dari 70 album. Tiga tahun sebelum meninggal karena serangan jantung, Benyamin menyanyikan lagu-lagu dalam irama yang menurut sejarah, bertumpu pada nyanyian sedih para keturunan warga Afrika di Amerika.
Menelusuri Jejak Rumah Kelahiran Bung Karno
REPUBLIKA.CO.ID, Hampir semua rumah peninggalan Belanda di kawasan Jalan Pandean, Surabaya masih asli. Antara satu rumah dan rumah lainnya nyaris tak ada berbeda, bentuk, model, dan coraknya bergaya kolonial. Sejak dulu, tidak ada yang spesial di kampung itu. Namun akhir - akhir ini, warga dikejutkan dengan penelitian yang menggemparkan.
Tidak hanya bagi warga setempat, masyarakat Indonesia pun dibuat tercengang dengan penemuan bahwa rumah kelahiran Soekarno, Presiden pertama RI yang juga Sang Proklamator, berada di sebuah gang sempit yang berukuran tidak lebih dari tiga meter di Kota Pahlawan, Surabaya. Bukan di Blitar sebagaimana yang diketahui masyarakat Indonesia selama ini.
Bung Karno dilahirkan di Surabaya, tepatnya di sebuah rumah kontrakan Jalan Lawang Seketeng, sekarang berubah menjadi Jalan Pandean IV/40. Ayahnya Raden Soekemi seorang guru sekolah rakyat dan ibunya Ida Ayu Rai seorang perempuan bangsawan Bali.
"Setelah kami lakukan penelitian dan melalui kajian cukup lama, ternyata rumah kelahiran Soekarno bukan di Blitar, melainkan di Surabaya," ujar Ketua Umum "Soekarno Institute", Peter A Rohi.
Ukuran bangunan rumah itu 6x14 meter. Terdiri dari satu ruang tamu, satu ruang tengah yang biasa ditempati keluarga bersantai, dan dua kamar. Di belakang ada dapur yang terdapat juga sebuah tangga kayu untuk naik ke lantai dua. Di lantai atas tersebut, hanya digunakan untuk menjemur pakaian.
"Dari dulu, ya seperti ini. Kami tidak mengubahnya, atau merenovasi," ujar Siti Djamilah, pemilik rumah saat ini.
Ia mengaku menempati bangunan itu sejak 1990. Ketika itu, ia ikut kedua orangtuanya. Kakak Djamilah dan suaminya, H. Zaenal Arifin juga menetap rumah itu.
Kemudian, 1998 Djamilah menikahi Choiri. Setelah kedua orang tua Djamilah meninggal, mereka hanya tinggal berempat. "Kami tidak menyangka bahwa rumah ini adalah tempat kelahiran Bung Karno. Sebuah kebanggaan dan anugerah karena kami tinggal di rumah tokoh kelas dunia. Tidak hanya presiden, tapi seorang yang patut menjadi teladan bangsa Indonesia," tutur Choiri, suami Djamilah.
"Kami sudah melalui kajian dan penelitian panjang sejak masa reformasi. Bahkan penelitian juga kami lakukan di Belanda. Buku-buku sejarah masa lalu juga membuktikan bahwa di Surabaya inilah Bung Karno dilahirkan. Syukurlah sekarang bisa diresmikan," ujar Peter A. Rohi.
"Di Jakarta ada prasasti Barack Obama, padahal dia Presiden Amerika Serikat. Masak Presiden Indonesia tidak ada prasastinya? Kami memasangnya di rumah kelahiran Soekarno," katanya, menambahkan.
Pasang Prasasti
Dijelaskan Peter, pemasangan prasasti digelar 6 Juni 2011 karena disamakan dengan tanggal kelahiran Soekarno, yakni 6 Juni 1901. Peter menyayangkan sikap pemerintah yang menyatakan bahwa Soekarno lahir di Blitar. Padahal, kata dia, berbagai buku-buku sejarah dan arsip nasional ditegaskan bahwa Soekarno dilahirkan di Surabaya.
Ia berani menunjukkan puluhan koleksi buku sejarah yang menuliskan kelahiran Soekarno. Di antaranya, buku berjudul "Soekarno Bapak Indonesia Merdeka" karya Bob Hering, "Ayah Bunda Bung Karno" karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto tahun 2002, "Kamus Politik" karangan Adinda dan Usman Burhan tahun 1950.
Lainnya, "Ensiklopedia Indonesia" tahun 1955, "Ensiklopedia Indonesia" tahun 1985, dan "Im Yang Tjoe" tahun 1933 yang sudah ditulis kembali oleh Peter A Rohi dengan judul "Soekarno Sebagi Manoesia" pada tahun 2008.
"Bahkan mantan Kepala Perpustakaan Blitar sudah mengakui bahwa Soekarno tidak dilahirkan di Blitar, melainkan di Surabaya," tuturnya. Pihaknya berharap, ke depan masyarakat Indonesia lebih mengetahui dan mengakui bahwa kota kelahiran Soekarno yang selama ini dikenal adalah keliru.
"Dulu pascatragedi G30S/PKI, semua buku sejarah ditarik dan diganti di Pusat Sejarah ABRI pimpinan Nugroho Notosusanto. Tapi saya heran, kenapa ada pergantian kota kelahiran Soekarno? Semoga pemerintah ke depan sudah mengakui bahwa lahirnya presiden pertama Indonesia ada di Surabaya," papar Peter.
Walikota Surabaya Tri Rismaharini juga mengaku sangat yakin bahwa Bung Karno bukan dilahirkan di Blitar. Pihaknya juga telah mengirim surat ke Pemerintah Pusat untuk meluruskan persoalan ini dan optimistis pemerintah mengakuinya.
"Kami masih menunggu respon dari Pemerintah Pusat. Tapi tahun 2010, walikota Surabaya saat itu, Bambang DH, sudah menandatangani prasasti sekaligus mengirimkan surat ke pemerintah pusat," tutur Tri Rismaharini.
Jadi Museum
Menurut Risma, pihaknya sudah menemui keluarga pemilik rumah, Choiri, agar bersedia menjualnya dan akan dijadikan museum atau tempat cagar budaya.
"Saya sudah memberikan tugas kepada Dinas Pariwisata Kota Surabaya untuk negosiasi harga dengan pemilik rumah. Nantinya rumah kelahiran Bung Karno akan dijadikan museum dan untuk kawasan sejarah," ujar Tri Rismaharini ketika ditemui di sela pemasangan prasasti dan peresmian rumah kelahiran Bung Karno, Senin (6/6).
Sayang, orang nomor satu di Surabaya tersebut enggan menyebutkan anggaran yang dikeluarkan. "Harga masih negosiasi. Saya sudah minta ke Bu Wiwik (Kepala Dinas Pariwisata) untuk mengalokasikan dana dari Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Kota Surabaya. Lebih bagus lagi kalau masih ada barang-barang aslinya, agar bisa menceritakan ke anak-anak bahwa di Surabaya Bapak Proklamator dilahirkan," tutur Risma.
Sementara itu, keluarga Bung Karno, Prof. Haryono Sigit, mengakui bahwa orangtua Bung Karno pernah tinggal di rumah itu. Ia juga menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk mengelola rumah tersebut. "Mau diapakan rumah itu, bukan wewenang saya. Saya serahkan ke Pemkot," tukas mantan Rektor ITS Surabaya tersebut.
Direktur Utama Surabaya Herritage, Freddy H Istanto mengatakan, jika nantinya rumah kelahiran Soekarno dijadikan museum maka yang harus diperhatikan adalah sistem pengelolaannya.
Choiri, selaku pemilik rumah mengatakan, secara prinsip pihaknya tidak mempermasalahkan dan siap menjual rumahnya ke Pemkot Surabaya. Terkait harga, ia mengaku masih melakukan negosiasi untuk menentukan harga yang pas. "Tapi kami masih banyak saudara kok di Surabaya, sambil mencari rumah, kami mungkin tinggal di rumah saudara dulu," timpal Djamilah.
Juni 09, 2011
Wali Doaku Untukmu Sayang
Kau minta apa, akan ku turuti
Walau harus aku terlelap dan letih
Ini demi kamu sayang
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Disetiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Tuhan ku pun sayang dia)
LINK DOWNLOAD
Juni 08, 2011
Janganlah Menangisi Masa Lalu
Karena sesungguhnya sesuatu yang berarti bagi generasi dulu, berarti juga bagi generasi muda, dan apa yang kita hadapi dengan penuh ketakutan sekarang ini, telah terjadi pula di zaman dahulu, dan telah datang hukum-hukum tentang masalah itu.
Keutamaan Bulan Rajab















